Translate

Tuesday, May 27, 2014

PRESENTING AND EXPLAINING

A.                Pengertian
Model Presentasi merupakan adaptasi dari model Advance Organizer  yang mengharuskan guru untuk mempersiapkannya sebelum  mempresentasikan informasi baru dan secara khusus  memperkuat dan memperluas  pemikiran siswa selama dan setelah presentasi. Pendekatan ini banyak dipilih oleh guru karena cocok dengan
pengetahuan sekarang tentang cara individu memperoleh, memproses dan menyimpan informasi baru; dan berbagai komponen model ini telah dikaji dengan seksama selama empat puluh tahun terakhir sehingga memberikan dasar pengetahuan yang substansial, meskipun tidak selalu konsisten. Secara singkat hasil belajar model presentasi  cukup jelas dan tidak rumit dalam membantu siswa memperoleh, mengasimilasi, menyimpan informasi baru; memperluas struktur konseptual dan kebiasaan mendengarkan dan memikirkan informasi.
B.                 Perencanaan Model Presentasi
1.      Memilih tujuan dan isi
Tujuan pembelajaran presentasi diutamakan untuk mendapatkan pengetahuan deklaratif. Contoh siswa mampu mendifinisikan arti fotosintesis, mampu menyebutkan aturan-aturan dasar permainan sepak bola, dll. Pemilihan konten presentasi dapat menggunakan prinsip power yang menyatakan  hanya konsep penting dan paling kuat yang seharusnya diajarkan dan bukan yang menarik tapi tidak penting bagi mata pelajaran. Sedangkan menurut prinsip ekonomi merekomendasikan bahwa guru menghindari kekacauan verbal dan membatasi presentasi dengan jumlah informasi minimum. Peta konsep juga bermanfaat bagi seorang guru  untuk membantu menyampaikan jenis ide dan bagi siswa  memberikan gambaran untuk memahami hubungan diantara ide-ide.
2.      Mendiagnosa pengetahuan siswa sebelumnya
Informasi yang diberikan dalam presentasi didasarkan pada perkiraan guru tentang  struktur kognitif yang sudah ada dan pengetahuan yang  dimiliki siswa tentang subyek tertentu. Tidak ada aturan yang tegas atau formula yang mudah yang dapat dilakukan guru untuk memeriksa pengetahuan siswa sebelumnya. Guru dapat menggunakan asesmen untuk mengetahui perkembangan siswa. Sedangkan dalam pembelajaran guru dapat menggunakan induksi atau establishing set untuk memeriksa pengetahuan siswa.  Siswa memiliki prior knowledge, perkembangan intelektual, gaya belajar dan intelegensia yang berbeda sehingga guru perlu menyesuaikan presentasi dan penjelasan agar sesuai dengan kebutuhan dan latar belakang siswa antara lain dengan penggunaan gambar dan ilustrasi, isyarat dan contoh.
3.      Memilih advance organizer yang tepat
Advance organizer merupakan scaffolding intelektual, dan membantu siswa melihat gambaran umum dari materi yang akan dipresentasikan. Berikut ini merupakan contohadvance organizer: “ saya akan memberikan informasi tentang jenis-jenis makanan yang dibutuhkan tubuh agar berfungsi dengan baik. Sebelum itu saya ingin memberi ide kepada kalian  yang akan membantu  memahami berbagai makanan yang sudah kalian makan dengan mengatakan  bahwa makanan tersebut dapat diklasifikasikan  menjadi lima golongan utama yaitu lemak, karbohidrat, protein, vitamin dan mineral. Makanan tersebut  berisi unsur-unsur  tertentu  seperti  karbon dan nitrogen. Makanan yang kita makan juga mengandung unsur-unsur yang terdapat dalam golongan makanan tersebut. Sekarang saya akan membicarakan diet seimbang yang dibutuhkan tubuh. Saya ingin kalian memperhatikan tarmasuk golongan manakah makanan yang kita makan?”
4.      Merencanakan penggunaan waktu dan ruang
Hal-hal yang harus  diperhatikan  guru yaitu memastikan waktu dialokasikan sesuai dengan kemampuan dan sikap siswa di kelas dan memotivasi siswa agar mereka tetap memperhatikan selama pembelajaran. Selain itu guru juga mengelola ruang, penataan ruang tradisional paling cocok dengan kelas yang menggunakan papan tulis, OHP atau proyektor.
C.                Pelaksanaan Presentasi
1.      Menyampaikan Tujuan Pembelajaran dan menyiapkan siswa
Tujuan pembelajaran dapat disampaikan dipapan tulis, newsprint chart atau display. Menyiapkan siswa untuk belajar dapat dilakukan dengan memberikan establishing set dan isyarat (cues) kepada siswa.
2.      Mempresentasikan advance organizer
Guru memastikan advance organizer dilakukan terpisah dari kegiatan introduksi dan presentasi materi. Advance organizer dipresentasikan kepada siswa menggunakan format visual tertentu seperti OHP atau power point image. Siswa harus memahami advance organizer  sehingga harus diajarkan kepada siswa
3.      Mempresentasikan Materi belajar
Menyampaikan materi dilaksanakan setelah direncanakan dan dipresentasikan dengan cara efektif, memperhatikan kejelasan, explaining links, contoh-contoh, teknik rule-explaining rule, penggunaan transisi dan antusiasme.
4.      Memantau dan memeriksa pemahaman
Untuk memantau pemahaman siswa guru dapat melakukan metode informal selama presentasi misalnya isyarat verbal dan non verbal misalnya siswa bingung, diam dan kernyitan kening sebagai tanda siswa tidak paham, sedangkan mengangguk,  tersenyum dan mata melebar takjub merupakan tanda pemahaman sedang terjadi. Secara formal guru dapat  meminta respon siswa tentang materi yang baru disampaikan.
D.                Pengelolaan Lingkungan Belajar
Pada awal pelajaran  guru berperan sebagai presenter aktif dan berharap siswa menjadi pendengar aktif. Kesuksesan model ini bergantung dari motivasi siswa untuk melihat serta mendengarkan presentasi. Model ini membutuhkan aturan yang mengatur pembicaraan siswa, pacing (langkah) yang baik dan metode untuk mengatur perilaku siswa pada saat presentasi, misalnya siswa yang melakukan kegiatan lain atau berbicara dengan teman sebelahnya.
E.                 Asesmen (Penilaian) dan Evaluasi Presentasi
Model presentasi sangat cocok untuk menyampaikan informasi baru kepada siswa dan membantu menyimpan informasi tersebut dalam memori mereka. Sehingga strategi evaluasi yang tepat adalah menguji perolehan dan retensi pengetahuan siswa. Faktor yang perlu diperhatikan dalam menguji pengetahuan siswa adalah menguji semua tingkat pengetahuan dan bukan hanya sekedar mengingat informasi, guru juga seharusnya mengkomunikasikan kepada siswa apa yang mau diujikan dan lakukan pengujian segera setelah selesai topik jangan menunggu mid atau semester.
F.        Scaffolding
pembelajaran scaffolding dapat diartikan sebagai suatu teknik pemberian dukungan belajar secara terstruktur, yang dilakukan pada tahap awal untuk mendorong siswa agar dapat belajar secara mandiri. Pemberian dukungan belajar ini tidak dilakukan secara terus menerus,  tetapi seiring dengan terjadinya peningkatan kemampuan siswa, secara berangsur-angsur guru harus mengurangi dan melepaskan siswa untuk belajar secara mandiri.  Jika siswa belum mampu men­­ca­pai kemandirian dalam belajarnya, guru kembali ke sistem dukungan untuk mem­bantu siswa memperoleh kemajuan sampai me­reka benar-benar mampu mencapai kemandirian. Dengan demikian, esensi dan prinsip kerjanya tampaknya tidak jauh berbeda dengan scaffolding dalam konteks  mendirikan sebuah bangunan. PembelajaranScaffolding sebagai sebuah teknik bantuan belajar (assisted-learning) dapat dilakukan pada saat siswa merencanakan, melaksanakan dan merefleksi tugas-tugas belajarnya.
Pembelajaran scaffolding dapat ditempuh melalui tahapan berikut:
1.      Melaksanakan assessment dan kemampuan awal dan taraf perkembangan setiap siswa untuk menentukan zone of proximal developement yakni wilayah perkembangan siswa yang masih berpotensi dan berpeluang untuk ditingkatkan dan dioptimalkan melalui bantuan guru, teman, atau lingkungan pembelajaran tertentu, termasuk di dalamnya pemanfaatan tekhnologi.
2.      Menjabarkan tugas-tugas dan aktivitas belajar secara rinci sehingga dapat membantu siswa melihat zona yang perlu di-scaffold.
3.      Menyajikan struktur/tugas belajar secara jelas dan bertahap sesuai taraf perkembangan sis­wa, yang dapat dilakukan melalui: penjelasan,  dorongan (mo­tivasi), dan pembe­rian contoh (modeling).
4.      Mendorong siswa untuk menyelesaikan tugas belajar secara mandiri.

G.                Advance Organizer
Advance organizer adalah gagasan dalam dirinya sendiri dan, seperti materi pelajaran, harus dieksplorasi secara terampil. Ia juga harus dibedakan dari pernyataan-pernyataan pengenalan, yang hanya berguna untuk pelajaran tetapi tidak untuk advance organizer.
Ada dua jenis advance organizer :
v    Expository organizer menjadi konsep dasar pada tingkat abstraksi tertinggi. Organizer ini mempresentasikan perancah intelektual tentang bagaimana siswa akan menggantungkan informasi baru yang mereka temui. Organizer ekspositori khususnya berguna karena ia menyediakan perancah ideasional untuk materi-materi yang asing/tidak biasa.
v    Comparative organizer biasanya diterapkan pada materi yang biasa. Organizer ini dirancang untuk membedakan antara konsep baru dan kosep lama untuk menghindari kebingungan yang disebabkan oleh kesamaan antar keduanya.
Organizer harus dibangun berdasarkan konsep-konsep penting atau rancangan-rancangan suatu disiplin atau bidang kajian Pertama, organizer harus dibangun sehingga pembelajar dapat menghayati kegunaannya. Fitur utama suatu organizer dengan demikian adalah, bahwa ia berada dalam tingkat abstraksi dan generalisasi yang paling tinggi daripada tugas pembelajaran itu sendiri. Tingkat abstraksi tertinggi adalah apa yang membedakan organizer dengan overview (pengenalan), yang ditulis (atau diucapkan) pada tingkat abstraksi yang sama sebagaimana materi pembelajaran. Hal ini disebabkan karena organizer tersebut, sebenarnya, merupakanpreview (tampilan awal) dari materi pembelajaran. Kedua, apakah organizer itu ekspositori atau komparatif, fitur penting dari suatu konsep atau rancangan harus ditunjukkan dan dijelaskan secara seksama .
H.                Perbedaan Metode Ceramah dengan Presentasi
Metode ceramah merupakan salah satu metode mengajar yang paling banyak digunakan dalam proses belajar mengajar. Metode ceramah ini dilakukan dengan cara menyampaikan materi pelajaran kepada peserta didik secara langsung atau dengan cara lisan. Penggunaan metode ini sifatnya sangat praktis dan efisien bagi pemberian pengajaran yang bahannya banyak dan mempunyai banyak peserta didik. Metode ceramah merupakan cara mengajar yang paling tradisional dan telah lama dijalankan dalam sejarah pendidikan, oleh karena itu metode ini boleh dikatakan sebagai metode pengajaran  tradisional karena  sejak dulu  metode   ini  digunakan sebagai alat komunikasi guru dalam menyampaikan materi pelajaran secara langsung kepada siswa sedangkan   Presentasi adalah suatu kegiatan berbicara di hadapan banyak hadirin. Berbeda dengan pidato yang lebih sering dibawakan dalam acara resmi dan acara politik  presentasi lebih sering dibawakan dalam acara bisnis atau promosi. Presentasi berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti menyajikan atau mengemukakan. Atau secara jelasnya presentasi bisa diartikan menyajikan atau mengemukakan informasi kepada orang lain dengan tujuan bermacam-macam seperti, memberi tahu, mempengaruhi ataupun mengajak (persuasif). Namun demikian pada saat ini presentasi juga dilakukan dalam proses pembelajaran, baik yang dilakukan oleh guru maupun siswa. Dalam presentase lebih sering menggunakan media LCD/OHP dalam penyampaiannya.


Monday, May 12, 2014

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN

A.      Pengertian Model Pembelajaran
Menurut Sudrajat (2008), Model pembelajaran merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Joyce & Weil (1980) mendefinisikan model pembelajaran sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam pembelajaran. Dengan demikian, model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode dan tekhnik pembelajaran seperti yang terlihat pada gambar dibawah ini.
                                                        
B.       Jenis-jenis Model Pembelajaran
            Adapun jenis-jenis model pembelajaran adalah sebagai berikut :

1.        Model Pembelajaran Kooperatif (cooperative learning)

Model cooperative learning beranjak dari dasar pemikiran getting better together yang menekankan pada pemberian kesempatan belajar yang lebih luas dan suasana yang kondusif kepada siswa untuk memperoleh, dan mengembangkan pengetahuan, sikap, nilai, serta keterampilan-keterampilan sosial yang bermanfaat bagi kehidupannya di masyarakat. Melalui model cooperative learning, siswa bukan hanya belajar dan menerima apa yang disajikan oleh guru dalam proses belajar mengajar, melainkan bisa juga belajar dari siswa lainnya, dan sekaligus mempunyai kesempatan untuk membelajarkan siswa yang lain. Proses pembelajaran dengan model cooperative learning ini mampu merangsang dan menggugah potensi siswa secara optimal dalam suasana belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 2 sampai 6 orang siswa.
unsur-unsur dalam model cooperative learning sebagai berikut:
·      Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya,
·      Setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui bahwa semua anggota kelompok mempunyai tujuan yang sama,
·      Setiap anggota kelompok (siswa) harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya,
·      Setiap anggota kelompok (siswa) akan dikenai evaluasi,
·      Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi kepemimpinan dan membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya,
·      Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

                       Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif

Langkah-langkah
Tingkah Laku Guru
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

Pengajar menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai dan memotivasi siswa belajar

Menyajikan informasi
Pengajar menyajikan informasi pada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan

Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok-kelompok belajar

Pengajar menjelaskan pada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien

Membimbing kelompok bekerja dan belajar


Pengajar membimbing kelompok belajar pada saat siswa mengerjakan tugas

Evaluasi
Pengajar mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.

Memberikan Penghargaan
Pengajar mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok


Ada beberapa jenis model pembelajaran kooperatif yang biasa digunakan, antara lain:
1.Student Team Achievement Division (STAD)  
            Langkah-langkah pelaksanaan :
·   Siswa dikelompokkan dengan anggota 4-5 orang tiap kelompok
·   Seluruh siswa diberi kuis (tidak boleh kerja sama)
·   Point tiap anggota dijumlahkan untuk mendapat skor tim
·   Tim yang mendapat skor tertinggi dapat diberi hadiah atau penghargaan
·   Alat/bahan yang harus disiapkan oleh guru adalah LKS, rencana pembelajaran dan alat evaluasi.
2.Teams Team Tournaments (TGT)
             Langkah-langkah pelaksanaannya:
·   Guru menyiapkan kartu soal, LKS dan alat/bahan
·   Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok (tiap kelompok beranggotakan 5 orang)
·   Guru mengarahkan aturan permainannya
3.Jig saw
            Langkah-langkah pelaksanaanya:
·   Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok (tiap kelompok beranggotakan 5 orang)
·   Materi pelajaran dibagikan kepada siswa dalam bentuk teks dan dibagi-bagi dalam beberapa sub bab
·   Setiap anggota kelompok membaca sub bab yang ditugaskan dan bertanggung jawab mempelajarinya
·   Anggota dari kelompoklain yang telah mempelajari sub bab yang sama bertemu dalam kelompok-kelompok ahli untuk mendiskusikannya
·   Setiap anggota kelompok ahli setelah kembali ke teman-teman kelompoknya berhak mengajar temannya
·   Ada kuis individu
·   Yang harus disiapkan guru adalah bahan kuis, LKS dan rencana pembelajaran
4.Think Pair share (TPS)
             Langkah-langkah pelaksanaannya:
·   Thinking (berfikir)
·   Pairing ( berpasangan)
·   Sharing (berbagi)
5.Number Head Together (NHT)
            Langkah-langkah pelaksanaannya:
·   Penomoran
·   Mengajukan pertanyaan
·   Berfikir bersama
·   Menjawab
6.Co-op Co-op (cooperative-coopertaive)
Langkah-langkah pelaksanaanya :
·      Diskusikan dengan siswa minat, keinginan siswa untuk mempelajari topik, pengalaman yang mereka miliki.
·      Bentuk tim sesuai yang mereka inginkan.
·      Tim memiliki lopik yang diinginkan.
·      Tim membicarakan mini topik yang mana mau dibahas oleh masing-masing pribadi siswa dalam tim (pemilihan mini topik).
·      Persiapan mini topik. Di sini siswa bekerja secara individu untuk memutuskan semua pertanyaan yang akan muncul terhadap mini topik tersebut.
·      Presentasi mini topik. Masing-masing siswa berprestasi dihadapan anggota timnya terhadap hal-hal/bagian-bagian yang ditugaskan pada masing-masing siswa.
·      Persiapan presentasi tim. Tim disiapkan untuk ke depan kelas untuk dilakukan dalam diskusi kelompok besar / diskusi kelas.
·      Presentasi tim. Satu tim mengambil kontrol terhadap kelas.
·      Evaluasi
7.TAI (Team Assisted Individualination)
Langkah-langkah pelaksanaannya:
·      Bentuk tim (sama dengan di STAD, TGT)
·      Pre test.
·      Pemberian materi.    
·      Tim belajar masing-masing mencri tim mereka dan membahas semua hal yang berhubungan dengan materi.                     I
·      Team scores and team recognation.
·      Teaching Groups. Setiap hari guru ada di tim-tim yang berbeda untuk membantu kesulitan tim. Di sini dituntut keterampilan guru dalam membimbing kelompok kecil.
·      Test. Tes diberikan hampir 2 x seminggu, atau boleh disuruh belajar di rumah dengan LKS barn besoknya dites.
·      Whole Class Unit. Lebih kurang 3 minggu guru bisa menyetop program ini dan bisa belajar ke hal lain.

2.            Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction/DI)
Direct instruction merupakan suatu model pembelajaran yang bersifat teacher center(berpusat pada guru).
Langkah-langkah pelaksanaanya:
·      Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa untuk belajar
·      Mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan
·      Membimbing siswa
·      Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik
·      Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapannya
3.            Project Based Learning (PJBL)
Pembelajaran berbasis proyek adalah sebuah model pembelajaran yang inovatif, dan lebih menekankan pada belajar kontekstual melalui kegiatan-kegiatan yang kompleks. Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan model pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada pendidik atau guru untuk mengelola pembelajaran di kelas dengan melibatkan kerja proyek. Pembelajaran berbasis proyek Melalui pembelajaran kerja proyek, kreativitas dan motivasi siswa akan meningkat. Kerja proyek dipandang sebagai bentukopen-ended contextual activity-bases learning, dan merupakan bagian dari proses pembelajaran yang memberi penekanan kuat pada pemecahan masalah sebagai suatu usaha kolaboratif, yang dilakukan dalam proses pembelajaran pada periode tertentu.
Kerja proyek memuat tugas-tugas yang kompleks berdasarkan kepada pernyataan dan permasalahan (problem) yang sangat menantang, dan menuntut peserta didik untuk merancang, memecahkan masalah, membuat keputusan, melakukan kegiatan investigasi, serta memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja secara mandiri maupun kelompok. Tujuannya adalah agar peserta didik mempunyai kemandirian dalam menyelesaikan tugas yang dihadapinya.
Langkah-langkah pelaksanaanya :
·         Penentuan Pertanyaan Mendasar (Start With the Essential Question).
Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial, yaitu pertanyaan yang dapat memberi penugasan peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas. Mengambil topik yang sesuai dengan realitas dunia nyata dan dimulai dengan sebuah investigasi mendalam. Pengajar berusaha agar topik yang diangkat relevan untuk para peserta didik.
·         Mendesain Perencanaan Proyek (Design a Plan for the Project.
Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara pengajar dan peserta didik. Dengan  emikian peserta didik diharapkan akan merasa “memiliki” atas proyek tersebut. Perencanaan berisi tentang aturan main, pemilihan aktivitas yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial, dengan cara mengintegrasikan berbagai subjek yang mungkin, serta  mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses untuk membantu penyelesaian proyek.
·         Menyusun Jadwal (Create a Schedule)
Pengajar dan peserta didik secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek. Aktivitas pada tahap ini antara lain: (1) membuat timeline untuk menyelesaikan proyek, (2) membuat deadline penyelesaian proyek, (3) membawa peserta didik agar merencanakan cara yang baru, (4) membimbing peserta didik ketika mereka membuat cara yang tidak berhubungan dengan proyek, dan (5) meminta peserta didik untuk membuat penjelasan (alasan) tentang pemilihan suatu cara.
·         Memonitor peserta didik dan kemajuan proyek (Monitor the Students and the Progress of the Project)
Pengajar bertanggungjawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas peserta didik selama menyelesaikan proyek. Monitoring dilakukan dengan cara menfasilitasi peserta didik pada setiap roses. Dengan kata lain pengajar berperan menjadi mentor bagi aktivitas peserta didik. Agar mempermudah proses monitoring, dibuat sebuah rubrik yang dapat merekam keseluruhan aktivitas yang  penting.
·         Menguji Hasil (Assess the Outcome)
Penilaian dilakukan untuk membantu pengajar dalam mengukur ketercapaian standar, berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing- masing peserta didik, memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik, membantu pengajar dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya.
·         Mengevaluasi Pengalaman (Evaluate the Experience)
Pada akhir proses pembelajaran, pengajar dan peserta didik melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi dilakukan baik secara individu maupun kelompok. Pada tahap ini peserta didik diminta untuk mengungkapkan perasaan dan pengalamanya selama menyelesaikan proyek. Pengajar dan peserta didik mengembangkan diskusi dalam rangka memperbaiki kinerja selama proses pembelajaran, sehingga pada akhirnya ditemukan suatu temuan baru (new inquiry) untuk menjawab permasalahan yang diajukan pada tahap pertama pembelajaran.

4.            Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)
Model Pembelajaran Berbasis Masalah adalah model pembelajaran yang diawali dengan pemberian masalah   kepada     peserta didik dimana masalah tersebut dialami atau merupakan pengalaman sehari-hari peserta didik. Selanjutnya peserta didik menyeleseikan masalah  tersebut untuk menemukan   pengetahuan baru.
Langkah-langkah pelaksanaannya:
·         Orientasi siswa kepada masala
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, logistic yang dibutuhkan dan memotivasi siswa agar terlibat dalam pemecahan masalah yang dipilihnya
·         Mengorganisasi siswa untuk belajar
Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut
·         Membimbing penyelidikan individual dan kelompok
Guru mendorong siswa untuk memperoleh informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan pemecahan masalahnya
·         Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Guru membantu siswa merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai
·         Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Guru membantu siswamelakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan dan proses-proses yang dilakukan.

5.            Model Pembelajaran Inkuiri
Inkuiri berasal dari kata to inquire yang berarti ikut serta, atau terlibat, dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan, mencari informasi, dan melakukan penyelidikan. Ia menambahkan bahwa pembelajaran inkuiri ini bertujuan untuk memberikan cara bagi siswa untuk membangun kecakapan-kecakapan intelektual (kecakapan berpikir) terkait dengan proses-proses berpikir reflektif. Jika berpikir menjadi tujuan utama dari pendidikan, maka harus ditemukan cara-cara untuk membantu individu untuk membangun kemampuan itu.
Langkah-langkah pelaksanaannya:
·         Orientasi
Pada tahap ini guru melakukan langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang kondusif. Hal yang dilakukan dalam tahap orientasi ini adalah:
ü  Menjelaskan topik, tujuan, dan hasil   belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa.
ü  Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan. Pada tahap ini dijelaskan langkah-langkah inkuiri serta tujuan setiap langkah, mulai dari langkah merumuskan merumuskan masalah sampai dengan merumuskan kesimpulan
ü  Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar. Hal ini dilakukan dalam rangka memberikan motivasi belajar siswa.
·         Merumuskan masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk memecahkan teka-teki itu. Teka-teki dalam rumusan masalah tentu ada jawabannya, dan siswa didorong untuk mencari jawaban yang tepat. Proses mencari jawaban itulah yang sangat penting dalam pembelajaran inkuiri, oleh karena itu melalui proses tersebut siswa akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya mengembangkan mental melalui proses berpikir.
·         Merumuskan hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru untuk mengembangkan kemampuan menebak (berhipotesis) pada setiap anak adalah dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji.
·         Mengumpulkan data
Mengumpulkan data adalah aktifitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. Proses pemgumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan kemampuan menggunakan potensi berpikirnya.
·         Menguji hipotesis
Menguji hipotesis adalah menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Menguji hipotesis juga berarti mengembangkan kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.
·         Merumuskan kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data mana yang relevan.